Purwakarta Jawabarat, Dunia pendidikan di Purwakarta sedang tidak baik-baik saja. Di balik jargon mencerdaskan generasi, muncul dugaan praktik kotor yang justru menggerogoti kepercayaan publik dari dalam.
Nama Eka Candra, Kasi PAUD di lingkungan Dinas Pendidikan, kini jadi sorotan tajam. Ia diduga menawarkan proyek yang tak jelas wujudnya—yang oleh sejumlah pihak disebut sebagai “proyek fiktif”. Lebih panas lagi, nama Kepala Dinas Pendidikan disebut-sebut ikut dibawa-bawa, seolah menjadi “jaminan” agar tawaran tersebut terlihat meyakinkan.
Jika dugaan ini terbukti, maka ini bukan sekadar pelanggaran biasa. Ini adalah bentuk penyalahgunaan jabatan yang berpotensi merusak integritas institusi pendidikan. Praktik semacam ini ibarat racun—diam-diam menyebar, tapi dampaknya mematikan kepercayaan masyarakat.
Sumber-sumber yang enggan disebutkan namanya menyebut adanya pola yang terstruktur: pendekatan ke pihak tertentu, penawaran proyek dengan janji manis, lalu menyeret nama pejabat lebih tinggi untuk memperkuat legitimasi. Skema seperti ini, jika benar terjadi, menunjukkan indikasi praktik yang tidak berdiri sendiri.
Pertanyaan besar pun mencuat: apakah ini ulah oknum semata, atau ada pembiaran di dalam sistem?
Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait. Diamnya para pejabat justru memicu kecurigaan publik semakin liar. Dalam situasi seperti ini, bungkam bukan lagi pilihan bijak—melainkan memperkeruh keadaan.
Desakan keras mulai bergema. Publik menuntut Inspektorat Daerah, bahkan aparat penegak hukum, untuk tidak sekadar “memantau”, tapi benar-benar turun tangan membongkar dugaan ini sampai ke akar-akarnya. Jika perlu, lakukan audit menyeluruh dan buka semuanya secara transparan.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi wajah birokrasi pendidikan di Purwakarta. Jika dugaan praktik gelap ini dibiarkan, maka pesan yang sampai ke masyarakat sangat jelas: bahwa dunia pendidikan bisa dipermainkan oleh kepentingan segelintir oknum.
Publik kini menunggu—bukan sekadar klarifikasi, tapi tindakan nyata. Karena ketika kepercayaan sudah runtuh, memperbaikinya jauh lebih sulit daripada sekadar memberi penjelasan. ( Tim/Red )





