Lensafakta.comBekasi||Ajang Pemilihan Umum dalam meraih kursi Presiden 2024 telah usai pada 14 Februari 2024. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang merupakan partai nasionalis terbesar dan telah memenangkan 2 kali trophy kursi Presiden pada tahun 2014 dan 2019 akhirnya harus rela memberikan trophy nya kepada Parai Gerindra yang juga sebagai partai pengusung ideolologi nasionalis.

Dalam pemilu tahun 2024 ini partai yang berlambangkan moncong putih banteng tersebut telah diluluh lantahkan dengan kekuatan yang tidak pernah di sadari (ataupun telah disadari). Mau tidak mau PDIP harus menyusun strategi baru dalam menjalankan keberlangsungannya jika ingin belajar dari pengalaman tahun ini.

Megawati sebagai founding father partai berlambang moncong putih banteng tersebut tentunya mengalami pukulan telak setelah melihat hasil yang di dapat pada pemilu 2024 saat ini.

Mesin mesin partai yang dianggap mampu Membangun Kekuatan guna mendapatkan suara dan simpati rakyat Indonesia tidaklah berjalan sesuai harapan berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya.

Alih alih partai lawan PDIP sibuk menyiapkan strategi dan taktik namun para petinggi PDIP merasa santai dan yakin akan keunggulannya.
Ataukah ada Hal lain yang membuat mandulnya pergerakan di tingakat elit partai?.
Hingga mengelembung di akar rumput.

Penulis menilai kegagalan PDIP pada pemilu tahun ini, berawal dari sang founder (Megawati Soekarno Putri) yang telah bersebrangan dengan Presiden Indonesia (Joko Widodo) yang merupakan kader partai dan telah dipercaya oleh partai sebagai kandidat dalam pemilu sebelumnya.

Ataukah nafsu politik sang founder yang terlalu berlebihan sehingga terjadinya ketidak harmonisan dan perang pemikiran dengan Sang Presiden (Joko Widodo).

Penulis melihat bukan lagi menjadi rahasia bahwa ketidak harmonisan antara pemilik partai dengan Presiden merupakan pecahnya basis kekuatan di tubuh PDIP. Sosok Joko Widodo telah menjadi simbol kepeecayaan bagi kebanyakan masyarakat Indonesia.

Dengan terjadinya perpecahan antar mereka jelas menjadi sebuah bingkai buruk bagi partai bermoncong putih banteng. Tidak sedikit media yang menayangkan sentilan sentilan politik Megawati yang di tujukan kepada Joko Widodo.

Agenda politik lanjuan antar keduanya mungkin tidak memiliki kesamaan sehingga perang dingin terjadi. Kebijakan kebijak partai tentu menjadi salah satu bagian perselisihan tersebut. Perbedaan pandangan yang menjadi kebijakan politik untuk 2024 ini tentunya merupakan pula bagian dari ketidak harmonisan mereka.

Diera digitalisasi saat ini informasi begitu cepat sampai ke masyarakat sehingga sikap dan statement yang dianggap tidak baik tentunya menjadi akan menjadi konsumsi yang siap saji. Dan ini menjadi sebuah momentum bagi lawan lawan politik PDIP dalam memanfaatkan situasi yang ada.

Sebagai politikus senior seharusnya Megawati dapat bercermin untuk selalu menjadi pemimpin yang menunjukan kewibawaan guna menjaga pengaruh baik untuk para kader dan simpatisan partai yang dibangunnya.

Begituoun dengan para elite-elite politik PDIP lainnya harus mampu menjadi bagian dalam membangun kepeecayaan di tubuh partai agar setiap.kesalahan dapat diminimalisir dan kekuatan partai tetap terbangun.

Tentunya politik merupakan alat meraih kekuasaan namun sikap dan tindakan yang berlebihan dari para politisi mampu meruntuhkan kepeecayaan yang telah dimiliki oleh partai tersebut.

Bebarapa kader potensial PDIP pun tidak sedikit yang keluar dari partai . Hal ini pun menjadi penyebab lunturnya kekuatan partai. Sadar atau tidak sadar Megawati sebagai pemimpin tertinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan harus belajar dari pengalaman 2024 ini.

Pun tentunya para petinggi partai PDIP lainnya juga harus belajar bersama atas kegagalan mereka di pemilu 2024 ini.

Jika tidak partai dengan jargon partai Wong cilik ini akan kandas dan berakhir serta ditinggalkan oleh para simpatisan dan para pengikutnya. Bahkan Teori klasik Aristoteles mengatakan politik adalah suatu usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Oleh: Yosep Situmorang