Senin, 26 Agustus 2019
NasionalPolitik

Ayah Harun Rasyid Tuntut Keadilan Meski Nyawa Jadi Taruhan

Ayah Harun Rasyid Tuntut Keadilan Meski Nyawa Jadi Taruhan (lensafakta.com)
Ayah Harun Rasyid Tuntut Keadilan Meski Nyawa Jadi Taruhan
59views

Orang tua Harun Ar-Rasyid korban kericuhan 21-22 Mei, Didin Wahyudin masih tidak sanggup menyembunyikan kesedihannya saat datang ke Komnas Hak Azasi Manusia (HAM). Bagaimana tidak, jenazah putra satu-satunya itu ditemukan di salah satu selokan di Slipi, Jakarta Barat.

Anaknya diduga menjadi korban muntahan timah panas dari pihak yang tidak bertanggungjawab. Saat pengacaranya mempresentasikan foto dan video dugaan pelanggaran HAM, tangan Didin tiba-tiba menyentuk pundak pengacara.

Ia meminta agar dilihatkan foto jenazah anaknya. Ketika itu, Didin nampak menahan tangis. Mata yang awalnya putih pun perlahan memerah dan basah. Pengacara lalu mengusap lutut Didin sembari meminta untuk bersabar.

“Anak saya tidak ada ikut ikut politik. Anak saya memang dibunuh, tidak ada menyikapi demonstrasi dengan peluru tajam,” ujar Didin dengan nada rendah sembari menatap Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara pada Selasa (28/05/2019).

Ayah Harun Rasyid Tuntut Keadilan Meski Nyawa Jadi Taruhan (lensafakta.com)
Ayah Harun Rasyid Tuntut Keadilan Meski Nyawa Jadi Taruhan

Pada kesempatan itu, Didin menyampaikan bahwa hingga saat ini keluarga belum mendapat hasil autopsi jenazah anaknya. Bahkan, ia mengaku dipersulit saat mengambil jenazah anak keduanya itu.

“Memang agak sulit untuk mengambil jenzah. Malamnya saya harus ke RS Polri Kramat Jati, katanya harus ada surat dari Polres Jakarta Barat. Dari Jakarta Barat katanya harus pagi, jam delapan. Setelah besoknya jam delapan, ada tanda tangan jam sembilan dan baru diantar,” tuturnya.

Saat pengambilan jenazah, Didin juga merasa aneh, ia diminta menandatangani dua hal. Pertama diminta agar tidak melakukan penuntutan atas kematian. Dan kedua adalah autopsi jenazah Harun.

Karena tidak ingin jenazah berlama-lama di RS Polri Keramat Jati, akhirnya ayah Didin yang mengambil jenazah memberikan tanda tangannya. Namun, keluarga tidak diberi salinan surat yang ditandatangani.

“Dan hasil autopsi tidak ada, cuma ada kertas selembar sebagai serah terima,” ujarnya.

Ayah Harun Rasyid Tuntut Keadilan Meski Nyawa Jadi Taruhan (lensafakta.com)
Ayah Harun Rasyid Tuntut Keadilan Meski Nyawa Jadi Taruhan

Sementara itu pada saat proses pelaporan, handphone Didin beberapa kali berdering. Ia terdengar mengatakan sedang berada di Komnas HAM. Karena si penelpon tetap tidak memutus panggilan, handphone Didin diberikan kepada pengacara.

Ketika berbicara dengan penelpon, pengacara kurang lebih berbicara seperti ini: “Sebentar ya ndan, kita sedang melakukan pengaduan ke Komnas HAM”. Si penelpon akhirnya menutup panggilan

Didin mengaku minta perlindungan Komnas HAM karena sudah banyak tekanan. Ia mencontohkan saat sedang laporan, kemudian ditelpon oleh aparat yang meminta dirinya untuk pulang ke rumah.

“Ini tadi ditelpon suruh balik. Semalam ada yang dateng, dari Polsek Kebon Jeruk sudah beberapa kali. Kalau mereka datang, saya tidak mau nemuin karena saya trauma. Saya bilang, saya mau tidur,” jelas Didin.

Diketahui, Harun Ar Rasyid (15) warga RT 09 RW 10, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat meninggal dunia saat terjadi kerusuhan 22 Mei di Jembatan Slipi Jaya, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (22/5) malam. Harun meninggal setelah nyawanya tidak tertolong saat dibawa ke RS Dharmais, Jakarta Barat.