Kamis, 15 November 2018
Teknologi

Peneliti Mendeteksi Keberadaan Wahana Angkasa Cina yang Hilang

81views

Wahana ruang angkasa China Tiangong-1 yang akan jatuh berhasil diamati oleh para peneliti di Fraunhofer FHR, Jerman. menggunakan sistem pencitraan radar TIRA (Pelacakan dan Pencitraan Radar), salah satu radar pengamatan terkuat di dunia.

Dengan radar, Fraunhofer FHR berhasil mengamati posisi stasiun luar angkasa yang diperkirakan akan jatuh antara 30 Maret dan 3 April.

Ketika dipindai dengan radar, tampak bahwa wahana Tiangong -1 terlihat utuh. Gambar yang ditampilkan adalah jejak kemerahan yang mencerminkan bagian dari kendaraan.

Dengan cara ini, para peneliti dapat mengamati kapan satelit ini akan mulai terpecah. Sebab, stasiun luar angkasa ini akan pecah ketika memasuki atmosfer.

Namun, peneliti FHR masih mengalami kesulitan untuk memperkirakan titik lokasi jatuhnya rongsokan stasiun luar angkasa. Karena, stasiun ini mengelilingi bumi setiap 90 menit dengan kecepatan 28.000 kilometer per jam. Dengan demikian, sangat sulit untuk memprediksi kapan dan di mana tepatnya wahana ini akan jatuh.

Dengan berat 8,5 ton itu, jatuhnya stasiun ruang angkasa ini berdimensi 10,4 meter x 3,4 meter akan memiliki dampak besar. Stasiun luar angkasa telah kehilangan kontak sejak 2016 karena rendahnya ketinggian orbit stasiun ini. Saat ini stasiun luar angkasa mengorbit di bawah 225 km di atas permukaan bumi.

Untuk itu, ESA menugaskan Fraunhofer FHR untuk menentukan dan menyelidiki rotasi alami Tiangong-1. Karena, rotasi ini mempengaruhi karakteristik penerbangan stasiun ruang angkasa dan ketika tabrakan terjadi.

Secara garis besar, lembaga ini memperkirakan lokasi jatuh satelit ini akan berada sekitar 43 derajat lintang utara dan 43 derajat lintang selatan. Namun, hitungan yang lebih akurat hanya bisa dilakukan beberapa hari sebelum dampak terjadi.

Selain Fraunhofer, dua peneliti dari University of Arizona Amerika Serikat juga melakukan pengamatan terhadap stasiun ini. Profesor Vishnu Reddy dan muridnya Tanner Campbell melihat Tiangong-1 dengan sensor optik. Alat dan perangkat lunak yang mereka buat dapat digunakan oleh para peneliti dan pihak lainnya yang ingin berpartisipasi dalam pengamatan.

Harapan mereka dapat membantu mendeteksi dan memperkirakan lokasi jatuh. Sebelumnya, LAPAN menyebutkan kemungkinan stasiun luar angkasa ini jatuh di Indonesia. Namun, kemungkinan stasiun luar angkasa akan jatuh di wilayah Indonesia hanya 1,2 persen

Jika jatuh di wilayah Indonesia, LAPAN memperingatkan orang untuk tidak menyentuh benda aneh yang mungkin ditemui. Karena ada konten berbahaya yang ada di Tiangong-1

ESA sendiri menyediakan halaman pelacakan stasiun ruang angkasa di tautan ini. Hasil pelacakan akan diperbarui setiap 1-2 hari sekali. Namun, ESA masih belum bisa memberikan kepastian kapan Tiangong-1 akan jatuh ke bumi.