Kamis, 15 November 2018
Wisata

Waduk Kedungombo, Jawa Tengah

53views

Waduk Kedungombo adalah salah satu waduk besar di Indonesia. Waduk Kedungombo terletak di perbatasan tiga kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Grobogan, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Boyolali tepatnya di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan. Bendungan utama Waduk Kedungombo berada di perbatasan Desa Rambat dan Desa Juworo, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan. Waduk ini menggunakan Sungai Serang sebagai sumber airnya. Wilayah Waduk Kedungombo juga merupakan pertemuan dengan Sungai Uter, Sungai Kombo, Sungai Banjaran. Saat ini, waduk juga menerima air dari beberapa anak sungai besar dan kecil lainnya yang memasok air ke Waduk Kedungombo, termasuk Sungai Braholo, Sungai Tengah, Sungai Nglanji, Sungai Tapen dan Sungai Sambas. Tujuan dari pembangunan Waduk Kedungombo adalah untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air dan mengairi sawah di sekitarnya, yang memiliki luas sekitar 70 hektar. Waduk ini mulai dibangun pada tahun 1985, dan akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto, pada 18 Mei 1991.

Para wisatawan dapat mencapai waduk ini, dengan berangkat dari Kota Solo, melewati daerah Kalioso, menuju kawasan Gemolong, yang dilanjutkan kea rah Sumber Lawang.. Destinasi Wisata Waduk Kedung Ombo di Geyer Purwodadi Grobogan merupakan tempat wisata yang harus anda kunjungi karena pesona keindahannya tidak ada duanya. Bagi pengunjung yang hobi memancing, maka mereka pu dapat menyalurkan hobi mereka di waduk ini. Berbicara tentang wisata kuliner,  masakan yang menjadi andalan daerah wisata ini adalah ikan bakar, yang dijajakan pada kios-kios di sekitar waduk. Keistimewaan ikan bakar di kawasan ini, para pedagang menjajakan ikan yang sangat segar, yang di dapat dari area di sekitar waduk. Adapun harga tiket maasuk ke waduk ini, juga tergolong murah, Para wisatawan hanya dikenakan biaya 500 rupiah saja, untuk dapat menikmati pemandang indah di Waduk Kedungombo.

Penduduk lokal daerah Destinasi Wisata Waduk Kedung Ombo di Geyer Purwodadi Grobogan juga sangat ramah tamah terhadap wisatawan lokal maupun wisatawan asing Dibalik megahnya waduk ini, ternyata memiliki kisah pilu, karena harus mengorbankan penduduk sekitar, yang harus kehilangan tanah dan rumahnya, dengan mendapat bayaran ganti rugi sangat murah. Kisah pilu itu kini berlanjut dengan ditutupnya kawasan waduk, sebagai kawasan wisata. Kehidupan masyarakat sektar waduk pun menurun penghasilan, terutama bagi merka yang biasa berjualan ikan di kawasan ini, karena mereka harus mengalami penurunan omset penjualan ikan, yang biasanya dapat menjual sekitar 30 kilogram, saat ini hanya 10 kilogram.